Posted by: pane1781 | July 15, 2008

Mesjid Raya Baiturahman

Masjid Raya Baiturrahman adalah simbol religius, keberanian dan nasionalisme rakyat Aceh. Masjid ini dibangun pada masa Sultan  Iskandar Muda (1607-1636), dan merupakan pusat pendidikan ilmu agama di Nusantara. Pada saat itu banyak pelajar dari Nusantara, bahkan dari Arab, Turki, India, dan Parsi yang datang ke Aceh untuk menuntut ilmu agama.

Masjid ini merupakan saksi bisu sejarah Aceh. Masjid ini  merupakan markas pertahanan rakyat Aceh ketika berperang dengan Belanda (1873-1904). Pada saat terjadi Perang Aceh pada tahun 1873, masjid ini dibakar  habis oleh tentara Belanda. Pada saat itu, Mayjen Khohler tewas tertembak di  dahi oleh pasukan Aceh di pekarangan Masjid Raya. Untuk mengenang peristiwa tersebut, dibangun sebuah monumen kecil di depan sebelah kiri Masjid Raya, tepatnya di bawah pohon ketapang. Enam tahun kemudian, untuk meredam kemarahan rakyat Aceh, pihak Belanda melalui Gubernur Jenderal Van Lansnerge membangun kembali Masjid Raya ini dengan peletakan batu pertamanya pada tahun 1879. Hingga  saat ini Masjid Raya telah mengalami lima kali renovasi dan perluasan  (1879-1993).

Peristiwa sejarah yang terakhir adalah terjadinya bencana tsunami 24 Desember 2004. Ketinggian dan derasnya air tsunami hingga 2 meter yang hampir menggenangi ruangan dalam Masjid Raya, menjadi saksi sejarah bagi kebanyakan orang yang selamat ketika berlindung di Masjid Raya. Setelah air tsunami surut, di dalam Masjid Raya dijadikan tempat meletakkan ribuan jenazah  korban tsunami.

Masjid Raya Baiturrahman merupakan salah satu masjid termegah di Asia Tenggara. Masjid yang menempati area kurang lebih empat hektar ini berarsitektur indah dan unik, memiliki tujuh kubah, empat menara dan satu menara induk. Ruangan dalam berlantai marmer buatan Italia, luasnya mencapai  4.760 m2, dan dapat menampung hingga 9.000 jama‘ah. Di halaman depan masjid terdapat sebuah kolam besar, rerumputan yang tertata rapi dengan tanaman hias dan pohon kelapa yang tumbuh di atasnya.

Masjid ini berada di pusat kota Banda Aceh yang  bersebelahan dengan pasar tradisional Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam,  Indonesia.

Posted by: pane1781 | July 12, 2008

Sekilas Banda Aceh

Tak terasa sudah sembilan tahun saya merantau di kota serambi mekah ini, banyak kenangan yang sudah di alami, teman-teman yang baik ada yang sudah pergi kemana-mana..saya disini cuma sedikit mengambarkan sedikit tentang kota Banda Aceh

Kota Banda Aceh adalah ibukota provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dahulu kota ini bernama Kutaraja, kemudian sejak 28 Desember 1962 namanya diganti menjadi Banda Aceh. Sebagai pusat pemerintahan, Banda Aceh menjadi pusat segala kegiatan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Kota yang telah berumur 796 tahun ini – berdasarkan Perda Aceh No.5/1988, tanggal 22 April 1205 ditetapkan sebagai tanggal keberadaan kota tersebut. Pada tanggal 26 Desember 2004, kota ini dilanda gelombang pasang tsunami yang menelan ratusan ribu jiwa penduduk dan menghancurkan lebih dari 60% bangunan kota ini. Hingga kini belum diketahui berapa jumlah pasti penduduk Banda Aceh pasca tsunami.

Cheng Ho pernah singgah di Banda Aceh dalam ekspedisi pertamanya setelah singgah di Palembang.

Walikota Banda Aceh yang sekarang adalah Mawardi Nurdin. Mawardi yang merupakan kepala dinas perkotaan dan pemukiman kota Banda Aceh dilantik Wakil Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Azwar Abubakar, sebagai pejabat sementara (PJS) Walikota Banda Aceh pada 8 Februari 2005. Pelantikan itu sesuai dengan keputusan menteri dalam negeri No. 131.21/52/2005 tentang pemberhentian dan pengangkatan walikota Banda Aceh. Mawardi Nurdin menjabat sebagai walikota Banda Aceh setelah walikota sebelumnya Syarifudin Latief dipastikan meninggal akibat bencana tsunami. Dalam surat keputusan itu juga disebutkan masa menjabat sebagai PJS Walikota Banda Aceh paling lama enam bulan sejak pelantikan. Keputusan itu nantinya akan disesuaikan lagi dengan perkembangan situasi dan kondisi Kota Banda Aceh.

Categories